Geliat Industri Gerabah Pasca Bom Bali

06
Pengerajin gerabah Lombok

Reporter: L. Theo Hidayat

Pasca bom bali tahun 2001, industri gerabah di Masbagik, Lombok Timur mengalami kelesuan.

Halo Rinjani – Malam hari tanggal 12 Oktober 2012, bak petir di siang bolong, Bali diguncang  2 ledakan bom, yang terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali. Ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat.

Peristiwa tersebut tak hanya terjadi sekali saja, karena tahun 2005 Bali kembali diguncang bom. Tak hanya memporak-porandakan Bali dengan pariwisatanya, namun juga berdampak ke Lombok dengan kerajinan gerabahnya.

Bali dijadikan sebagai pasar utama jalur distribusi pemasaran gerabah Lombok. Ini dikarenakan Bali adalah kawasan yang ramai oleh kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara saat itu. Sehingga dengan mendistribusikan gerabah melalui Bali, penjualan gerabah lebih laris terjual.

Pasca kejadian Bom Bali permintaan dan penjualan gerabah Lombok menjadi sepi. Pengerajin gerabah banyak yang gulung tikar serta banting setir. Tak terkecuali di Kecamatan Masbagik Timur, Kabupaten Lombok Timur, yang merupakan salah satu sentra industri kerajinan gerabah di Lombok, selain Banyumulek, Lombok Barat.

Slamet Mulyono, sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kabupaten Lombok Timur saat ditemui diruangannya, mengakui peristiwa Bom Bali berdampak pada penjualan gerabah di Lombok.

“Jadi memang saat bom bali itu penjualannya menurun, karena bom bali itu sangat berpengaruh tidak hanya ke gerabah tapi juga kerajinan lain,” ungkapnya

Aeruni, salah satu pengrajin gerabah, di kecamatan Masbagik Timur, mengatakan, sejak peristiwa bom Bali terjadi, pemesanan gerabah, dari distributor sepi.

“Sebelum bom bali banyak sekali pengiriman gerabah, tiap bulan tetap ada pengiriman dalam skala besar. Tidak hanya ke bali akan tetapi luar negeri juga. Tetapi, semenjak bom bali itu tidak pernah ada jual-beli,” ungkapnya.

Mulyono berujar, untuk mengembalikan penjualan gerabah Masbagik seperti semula Disperindag Kabupaten Lotim, telah memulai beberapa langkah.

“Pertama, kita melakukan promosi kembali, melalui pameran-pameran setiap event, seperti di Jakarta, kan pengunjungnya itu banyak dari luar negeri. Kemudian kita mengajari mereka membuat web. Kemudian kita juga melakukan pelatihan-pelatihan, bagaimana meningkatkan kualitas gerabah kita,” jelas laki-laki tiga anak itu.

Saat ini, hanya tersisa sedikit sekali pengerajin gerabah di wilayah Masbagik timur, yang awalnya mengular sepanjang jalan di wilayah tersebut.

“Sekarang sudah jarang pengerajin gerabah disini, hanya satu dua yang masih mengerjakan seperti ini. Banyak yang berubah haluan, ada yang jual bangunan, mengelola sawah, nah kita yang tidak punya apa-apa, hanya ini yang bisa kita kerjakan,” tutur Aeruni.

Hal itu ditambah lagi dengan kurangnya pembinaan terhadap pengerajin gerabah, sebab mereka tidak bisa menyesuaikan, dengan standarisasi yang ditetapkan oleh koperasi wanita yang khusus menangani gerabah.

“Kita sebagai kelas bawah tukang mandai tanah liat untuk gerabah sama saja, karena koperasi itu ada standarisasinya. Jika lain saja warnanya akan dikembalikan, kan kita yang susah, harus ulang lagi,” pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Mulyono menngatakan jika Disperindag Kabupaten Lotim sudah mulai melakukan pembinaan terhadap pengerajin gerabah. Pembinaan mencakup teknis desain dan segi pembuatan gerabah, agar kualitas gerabah yang dihasilkan lebih baik lagi.

“Tapi dia (pengerajin .red) rupanya tidak nyaman, dia rupanya sudah biasa dengan cara manual. Padahal jika menggunakan mesin lebih lembut, lebih halus, dampaknya nanti kan ke produksi gerabah yang lebih halus lagi. Tapi kan merubah karakter mereka itu yang kita perlu waktu lagi. Nah, jadi tadi itu mesinnya tidak dipakai,” jelasnya.

Selain itu untuk melepaskan diri dari ketergantungan distribusi gerabah dari Bali, Mulyono memaparkan Disperindag Kabupaten Lotim bekerjasama dengan Disperindag Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melakukan ekspor secara langsung. Ia mengakui untuk menjadi eksportir perlu syarat administratif yang harus dipenuhi.

“Tapi kita juga memulai untuk melakukan ekspor tanpa melalui Bali. Itu sekarang Disperindag Kabupaten Lotim, Disperindag Provinsi NTB, kita mulai memberi pelatihan, memberi jalan, pelatihan teknis bagaimana pengerajin kita itu bisa melakukan eksportir langsung ke luar negeri,” terangnya.

“Jadi singkatan NTB, Nasib Tergantung Bali, itu tidak ada lagi,” selorohnya.

Mulyono juga menambahkan bahwa tahun depan akan dibangun galeri besar di daerah Masbagik Timur, sebagai sentra industri gerabah. Pembagunan galeri tersebut diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018. Dana untuk untuk tahun ini digunakan untuk industri tenun di Kecamatan Pringgasela.

‘Tahun depan kita akan bangun galeri terbesar pusat sentra industri gerabah. Kita minta anggaran dari DAK. Ngambilnya dari pusat. Kita akan bangun di situ pusat industri gerabah Masbagik Timur. Kita akan bangun bertingakat, nah nanti para tamu-tamu kita akan datang, akan melihat proses pembuatannya bagaimana,” pungkasnya. (halorinjani/lta/aks)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s