Lombok Makin Ramai

mandalika2-1024x668
Rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika

Penulis: Annisa Saumi*

Bisnis turisme di Pulau Lombok kian hari kian berkembang. Banyak tempat-tempat baru yang bermunculan sebagai destinasi baru. Jika dulu berplesir ke pantai berarti menuju Pantai Senggigi, atau paling jauh ke Kuta di Lombok bagian selatan, maka saat ini berplesir ke pantai bisa saja berarti ke Pantai Pink Tangsi, ke Pantai Mawun, ke Selong Belanak, dan macam-macamnya. Kita pun dulu tak pernah membayangkan jika aliran air deras yang digunakan para petani untuk mengaliri sawahnya di Desa Pringgarata, saat ini menjadi destinasi wisata ‘water boom’ alami di Lombok.

Desa-desa tradisional Suku Sasak juga naik pamornya dan menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika tiba di Lombok. Desa-desa tradisional tersebut jadi ramai dan menyuguhkan daya tarik tersendiri. Seperti misalnya di Desa Sade, dengan rumah tradisionalnya, kaum perempuannya yang menyesek (menenun) kain, dan menawarkan apa yang dianggap ke-tak lazim-an bagi logika manusia ‘modern’: mengepel lantai menggunakan kotoran sapi.

Orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia pun kini punya alternatif lain untuk berwisata selain Pulau Bali yang sudah habis ‘ditelanjangi’ oleh investor maupun turis. Pemerintah daerah juga ambisius untuk menjadikan Lombok ramai, salah satunya dengan membuka bandara bertaraf internasional—yang tak kunjung mendapatkan nama apik—yang lebih besar di Tanak Awu, Lombok Tengah, setelah bersengketa dengan para petani. Lombok pun dibuka lebar-lebar bagi kegiatan turisme maupun untuk investor, walaupun belum ‘sevulgar’ Bali.

Keterbukaan juga membawa peluang ekonomi baru bagi Lombok. Industri turisme Lombok tumbuh subur melahirkan peluang bisnis menjanjikan. Makin banyak dijumpai jasa tur dan travel, serta profesi tour guide yang kian hari makin diminati. Kurikulum di sekolah-sekolah pun ikut menyesuaikan geliat industri pariwisata. Di Kota Mataram, pelajaran Muatan Lokal yang awalnya berupa pelajaran Bahasa Sasak di tingkat Sekolah Dasar, diubah menjadi Bahasa Inggris Pariwisata di tingkat SMP dan SMA sekan belum cukup jika hanya mempelajari Bahasa Inggris saja.

Keterbukaan itu membawa perubahan-perubahan dan pembaruan. Banyak perubahan-perubahan yang dilakukan untuk mempercantik Pulau Lombok. Jalan-jalan di selatan Pulau Lombok diperbaiki untuk mempermudah jalan masuk bagi investor. Bekerjasama dengan investor asing dan hutang dari Bank Dunia, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika diciptakan sebagai tonggak perubahan dan pembaruan industri turisme di Lombok. Pembangunan KEK Mandalika tentunya untuk menarik turis dari dalam maupun luar negeri agar Lombok semakin ramai dan ketika sudah ramai, pendapatan daerah akan naik juga sehingga bisa digunakan untuk membayar hutang ke Bank Dunia dan syukur-syukur juga jika bisa digunakan untuk membuat rakyat sejahtera.

Nantinya, bisa saja akibat dari keberadaan KEK Mandalika ini akan banyak ditemui pantai privat, seperti yang ada di Senggigi, yang patoknya diawasi satpam, atau seperti di Gili Trawangan, yang untuk menikmati pantainya harus masuk restoran atau hotel dahulu. Aneh saja jika membayangkan penduduk sekitar yang lahir di sana, tumbuh besar bersama pantai di sana, lalu tiba-tiba suatu hari, hanya karena investor memiliki lebih banyak uang dari mereka dan membangun kawasan senang-senang, mereka tidak boleh masuk pantai sebab sudah jadi properti privat. Kemudian yang disisakan kepada publik hanyalah pantai kelas dua yang pantainya tak sebagus pantai privat seperti yang terjadi di Senggigi. Tapi, tentu tak ada yang aneh dalam kapitalisme seperti itu, karena kapitalisme sendiri adalah keniscayaan dan keanehan yang membutuhkan hal aneh seperti itu untuk terus berjaya.

Apa yang dikatakan Gde Aryantha Soetama tentang sikap orang Bali yang bangga jika setiap sudut pulaunya terkenal, tak berbeda jauh dengan orang Lombok. Orang Lombok pun jarang mempersoalkan keberadaan investor dan pembangunan-pembangunan yang dilakukan investor. Orang-orang Lombok akan dengan senang hati menyambut investor, karena siapa lagi yang akan membangun Lombok jika bukan investor? Toh, kelas menengah Lombok juga bisa memanjakan dirinya di tempat yang dibangun investor.

Pembangunan yang baik tentunya tak menihilkan keberadaan manusia. Manusia-manusia Lombok juga bisa ikut ‘dibangun’ agar tak kalah bersaing dengan pendatang dari luar yang akan menyerbu Lombok jika Lombok semakin ramai. Jika pembangunan manusia kita patok dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tiap tahunnya, maka kita boleh cemas. Dari tahun ke tahun, dari 34 provinsi, NTB betah berada berlama-lama di seputar angka 30.

 


*Penulis adalah editor dan pengelola Halo Rinjani. Kolom merupakan tanggung jawab penulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s