Mantar dan Dunia Serdadu Kumbang

552d4c160423bdbb2b8b456a
Desa Mantar. Foto: Kompasiana

Reporter: Bayu Diktiarsa

Desa Mantar ditetapkan sebagai “Desa Budaya” yang menjadi magnet wisata di KSB. Desa Mantar dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Pelabuhan Poto Tano KSB. Film “Serdadu Kumbang” yang mengambil lokasi di Desa Mantar memberikan dampak ekonomi bagi desa tersebut.

Halo Rinjani – Bercerita tentang Desa Mantar, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB, red.), Film Serdadu Kumbang menawarkan gagasan tentang pendidikan di Indonesia. Mengambil lokasi di salah satu desa tertinggi di KSB, film tersebut memberikan dampak ekonomi bagi warga Desa Mantar. Kawasan pegunungan ini menjadi menjadi salah satu destinasi wisata di “Bumi Undru” dengan perpaduan panorama alam yang mempesona dan hawa dingin khas pengunungan.

Sebelumnya, film yang dirilis pada tahun 2011 ini bercerita tentang tokoh Amek yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar Kelas 5. Ia memiliki bibir sumbing, tapi itu tidak menjadi suatu masalah bagi Amek. Bahkan Amek memiliki cita-cita menjadi seorang reporter dan bersama kawan- kawannya menggantungkan harapannya pada sebuah pohon di Desa Mantar.

Salah satu yang menjadi masalahnya adalah keberadaan ayah Amek yang menjadi TKI di Malaysia. Sudah hampir 3 tahun Ayah Amek tidak pulang. Dalam salah satu adegan, Amek menukarkan kambing dengan HP kepada salah seorang pedagang. Namun belum sampai menelpon ayahnya, Amek tidak jadi menghubungi sebab di Desa Mantar tidak memiliki sinyal.

Selain masalah keluarga, film ini menggambarkan tentang potret pendidikan di Indonesia. Ada 3 guu yang memiliki kepribadian berbeda dalam mengajar dan memandang pendidikan. Bu Imbok sebagai guru kewarganegaraan yang sangat peduli dan akhirnya memilih mundur karena tidak setuju dengan kekerasan di sekolah. Pak Alim, guru disiplin dan tergolong galak kepada murid. Film yang dikemas dengan bahasa santai dan khas logat Sumbawa ini memiliki dialog cerdas dan humor. Namun beberapa reviewer film menganggap film ini memiliki pesan terlalu banyak sehingga terkesan menggantung dan mengambang.

Pasca film Serdadu Kumbang karya Ari Sihasale, kawasan Mantar semakin ramai dikunjungi. Pemerintah daerah bahkan menetapkan Desa Mantar menjadi “Desa Budaya” yang menjadi magnet wisata di KSB. Kini berbagai fasilitas penunjang telah dibangun di kawasan Mantar seperti akses jalan, hingga landasan paralayang. Bahkan pada tahun 2016, berbagai perlombaan Paralayang dihelat di kawasan dengan ketinggian lebih dari 630 meter diatas permukaan laut tersebut.

Desa Mantar sendiri kini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Pelabuhan Poto Tano KSB. Para wisatawan yang berkunjung ke Desa Mantar dapat menginap di rumah penduduk. Melalui konsep pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, wisatawan akan berinteraksi langsung dengan warga Mantar. Dari sisi pemandangan yang disuguhkan, kawasan Mantar menyuguhkan panorama khas yang indah. Kawasan Tambak di daerah Pototano, dan Lautan Selat Alas menjadi salah satu kawasan wisata alternatif di Nusa Tenggara Barat. (halorinjani/bay/aks)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s