Meramaikan Mataram Mall dengan Ekonomi Kerakyatan

mataram-mall
Mataram Mall. Foto: TripAdvisor

Minimnya alternatif “wisata belanja” membuka peluang bagi munculnya mal baru di Kota Mataram. Terjepitnya Mataram Mall dengan kehadiran mal baru bisa disiasati dengan mengganti segmen pengunjung.

Reporter: Bayu Diktiarsa

Halo Rinjani – Walaupun telah diatur dalam Perda, kawasan ekonomi Cilinaya tidak menjadi jaminan bagi keberlangsungan Mataram Mall kedepan. Pada medio 2010-2014 terjadi kejumudan pada warga Mataram terkait kebosanan dengan pilihan pusat perbelanjaan yang ada. Pilihan terpusat ke Mataram Mall serta minimnya alternatif “wisata belanja” membuat peluang besar bagi terbentuknya mal baru.

Dalam kajian kapitalisme dan relasi modal kelas-kelas borjouis. Salah satu teoritikus ilmu sosial asal Prancis, Henry Lefebre melihat fenomena berdirinya mal dalam sebuah kota sebagai produksi ruang dari kelas-kelas tertentu. Upaya menciptakan investasi dan usaha yang terpusat dengan simbol-simbol brand dan produk baru menciptakan peluang usaha bagi pemodal besar. Secara lebih jauh, konstruksi mal baru di daerah komplek perumahan sebenarnya tidak sesuai dengan pembagian zona wilayah yang ada.

Namun Stuart Elden dalam jurnal There is a politic of space menekankan bahwa untuk apa dan kepada siapa mereka membangun sebuah ruang. Proses penciptaan ruang berupa “Epicentrum” dibuat untuk investasi kelompok pemodal besar semata. Dengan akumulasi modal yang dimiliki, tentu sudah tidak relevan lagi membahas tentang tata kota. Dalam kajian Lefebre, para pemodal besar yang berada di Lombok Epicentrum Mall (LEM, red.) memainkan mekanisme pasar dengan upaya penanaman dominasi spasial atau hegemoni dalam lingkup ruang kota.

Bicara pada rezim modal dan kebebasan pasar, persaingan usaha menjadi salah satu bentuk paling adil dalam ekonomi masyarakat. Padahal Mal atau Departement Store pada hakikatnya bukan sebagai bentuk dominasi pasar, melainkan sebagai stabilisator harga. Sebagai refleksi di zaman Soekarno saat itu membangun Sarinah sebagai pusat perbelanjaan. Pembentukan Sarinah bukan diilhami dari negara-negara dengan rezim pasar, melainkan pada daerah berpaham sosialis.

”Demikian pula department store bukan suatu barang luxe, tetapi sesuatu barang vital untuk terselenggaranya sosialisme di Indonesia.Dan bukan di Indonesia saja, tiap-tiap Negara sosialis di dunia ini mempunyai department store. Datanglah di Praha, datanglah di Moskow, datanglah di Warsawa, datanglah di Ulanbator, ada department store Saudara-saudara, sebagai distribusi, sebagai prijs stabilitator.

Melihat kondisi terjepitnya Mataram Mall, pihak marketing harus menyadari bahwa segmentasi pasar dengan segmentasi sosial ekonomi status yang tinggi telah berpindah ke LEM. Hal ini membuat Mataram Mall harus berpindah segmen dan memberikan alternatif baru.

Dalam kajian Lefebre, Mataram Mall harus mencipta ruang alternatif atau ruang diferensiasi sebagai bentuk counter space dari terbentuknya LEM yang baru. Bisa mengambil contoh, manajemen Mal di Kota Besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang. Walaupun memiliki banyak pusat perbelanjaan, masing-masing memiliki segmentasi sendiri. Selalu akan ada Mal dengan segmentasi menengah ke atas, namun tidak sedikit pula yang mengambil segmentasi ke bawah.

Beberapa rujukan kota dalam manajemen mal yaitu Malang dan Jakarta. Di Kota Malang, ada Mal khusus menjual Malang Plaza tempat menjual telepon seluler, pasar besar, Cyber Mall khusus menjual alat elektronik, hingga segmentasi dua mal besar, yakni Mal Olimpic Garden tempat belanja besar dan keluarga atau Malang Town Square dengan segmentasi mahasiswa. Yang unik adalah keberadaan Pasar Besar di daerah ekonomi yang tidak tergerus keberadaan mal besar karena telah memilih jalur segmentasi ekonomi menengah.

Contoh lain misalnya mal di Jakarta, pusat perbelanjaan elektronik ada di Glodok, ada pusat perbelanjaan lain di Blok M, pasar grosir ada di Tanah Abang. Beberapa Mal di Jakarta bahkan menjadi penentu harga yang lebih murah, bukan seperti saat ini keberadaan mal menjadi gaya hidup dengan harga selangit. Fungsi stabilisasi harga bukan pada model mal modern seperti di Casablanca, Mal Ciputra, Plaza Senayan, Mal Festival tempat melambungkan harga dengan dominasinya.

Meninjau dari beberapa kota di Indonesia, Mataram Mall harus kembali pada khittah pembentukannya di daerah ekonomi Cakranegara. Hal itu tentu saja memiliki implikasi pada pilihan segmentasi Mataram Mall menyasar ekonomi kerakyatan. Penjualan barang yang berasal dari mayoritas masyarakat, bukan pada blok-blok pemodal besar. Manajemen harus segera banting setir agar tidak rugi dan gagap dalam menerima perubahan. Jangan sampai termakan strategi marketing LEM dengan mengajak brand ternama. Silahkan beralih saja dengan konsep baru Mataram Mall sebagai pusat ekonomi kerakyatan. (halorinjani/bay/aks)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s