Mengambil Teladan dari Reklamasi Pulau Bungin

1109476bungin-rumahh780x390
Pulau Bungin, Sumbawa. Foto: Kompas

Tidak ada investor properti yang sesabar orang-orang Bajo. Suku Bajo di Pulau Bungin telah tinggal hampir 200 tahun di pulau hasil reklamasi dan merupakan contoh sukses reklamasi.

Reporter: Bayu Diktiarsa

Halo Rinjani – Bila ingin tahu bagaimana penolakan masyarakat Bali terhadap reklamasi Benoa, sebuah film berjudul “Kala Benoa” layak untuk disimak. Film berdurasi 50 menit tersebut bercerita tentang para nelayan yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Ketut Karya, Ketut Linggih, Nyoman, dan Made Raram diwawancara oleh Dandhy Laksono dan Ucok Parta dari Watchdoc Documentary Maker. Mereka sepakat menolak reklamasi, suara-suara nelayan itu direkam dan luput dari pemberitaan media nasional.

Walaupun mengambil latar kisah tentang perjuangan warga Bali. Film ini justru memulai dengan cerita dari Pulau Bungin, pulau yang berjarak sekitar 300 km di timur Bali tepatnya di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa ini merupaka salah satu pulau terpadat di dunia. Pulau yang dihuni hingga 3.120 jiwa hanya seluas 12 hektar.

Pulau ini dihuni oleh para pelaut dari Suku Bajo yang telah tinggal hampir 200 tahun. Dalam film tersebut, pada awalnya Suku Bajo menguruk pulau dari hanya 3 hektar menjadi 12 hektar seperti saat ini. Kesabaran Suku Bajo yang mendiami Bungin hampir ratusan tahun dapat menjadi contoh praktik reklamasi sukses di Indonesia.

Penolakan Reklamasi tidak hanya terjadi di Pulau Bali, tetapi juga menyentuh sisi timur pulau Lombok. Badar, nelayan di Labuhan Haji, Lombok Timur dalam film Kala Benoa menolak pengerukan pasir yang dilakukan di wilayahnya untuk reklamasi Benoa. “Orang yang membangun, masak pantai kami yang dirusak? Kalau diperbaiki boleh. Kalau dikeruk jangan,” ungkap Badar.

Ia menambahkan pengerukan pasir besar-besaran akan berakibat pada abrasi di Lombok bagian timur. “Tidak boleh dikeruk, itu pasir kita lebih tinggi, kalau dikeruk akan habis,” ungkap Tohri, nelayan lainnya.

Dalam film ini juga diceritakan tentang dialog antara investor PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI). Perusahaan milik Tomy Winata dengan warga Bali. Berkali-kali pula investor berkata “percayalah kami, kami tidak akan merusak bumi pertiwi,” ungkap perwakilan PT TWBI pada pertemuan tersebut.

Padahal ada pelajaran unik dari warga Bungin, mereka hanya mengambil karang mati demi terjaganya lingkungan mereka. Maka benarlah salah satu kutipan menarik di film ini, “tidak ada investor properti yang sesabar orang-orang Bajo. Terutama bila hendak mereklamasi 700 hektar dengan 23 juta kubik pasir.”.  (halorinjani/bay/aks)

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s