Senjakala Mataram Mall

mataram-mall
Mataram Mall. (foto: TripAdvisor)

Reporter: Bayu Diktiarsa

Ruang aktivitas kota Mataram berubah sejak berdirinya Mataram Mall di awal tahun 2000-an, dari Ampenan menuju Cakranegara. Pada perkembangannya, kehadiran pusat perbelanjaan baru mengikis aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan lama.

Halo Rinjani – Pasca diresmikannya Lombok Epicentrum Mall (LEM, red.) pada Oktober 2015, berduyun-duyun warga Mataram hingga daerah lain datang. Dalam pandangan ekonomi modern saat ini, dibukanya mal baru bisa menggiatkan roda ekonomi dan iklim investasi yang sehat. Majunya LEM atau sering disebut “mal baru” ternyata berdampak pada “mal lama” atau Mataram Mall yang akhirnya sepi peminat. Hal ini mengingatkan kita ketika Mataram Mall hadir di awal tahun 2000an, menggeser tata ruang Kota Mataram, dari Ampenan ke Cakranegara. Dari Ampenan Cerah Ceria menuju Mataram Mall di Cilinaya.

Ditinjau dari sejarahnya, mal berasal dari istilah Perancis “Maille” yang berarti palu kayu  bertangkai panjang yang digunakan untuk memukul bola dalam permainan kriket. Permainan ini dimainkan di lorong atau jalan sepi yang tidak dilewati kendaraan atau biasa disebut “Pall Malls”. Melihat aktivitas ini, beberapa orang melihat potensi usaha. Akhirnya beberapa membuat toko di sekitar jalan tersebut sambil berharap mendapat pembil dari penonton yang datang menyaksikan permainan tersebut. Lambat laun, permainan itu jarang dimainkan kembali. Namun yang terjadi pada toko-toko tersebut tidak demkian. Orang-orang semakin ramai mengunjungi toko satu ke toko yang lain sehingga membentuk pusat perbelanjaan.

Melihat konsep perdagangan di Indonesia, tidak lepas dari pergeseran ruang aktivitas ruang di zaman Hindia-Belanda hingga masa saat ini. Salah satunya adalah pergeseran ruang kota di Mataram, dari Ampenan dan kota pelabuhannya, kini bergeser ke daerah Cakranegara. Konsep pergeseran pusat kota dari wilayah pantai menuju tengah kota hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Daerah Sunda Kelapa dan Batavia di Jakarta yang awalnya berada di Jakarta bagian Utara dekat pantai kemudian berubah ke Jakarta Pusat dengan sistem tata kota terpusat dan tersentral. Begitupun lingkar Ampenan-Mataram-Cakranegara yang kemudian berubah.

Melihat kondisi itu, menjadi relevan ketika pada tahun 2000an pusat perbelanjaan Ampenan Cerah Ceria (ACC) yang terkenal pada masa 1990-2000an menjadi pudar ketika Mataram Mall berdiri pada awal 2000an. Ruang ekonomi masyarakat kemudian bergeser dari pusat perbelanjaan di Ampenan menjadi ke daerah Cilinaya, Cakranegara. Sehingga lambat laun, terdengar anekdot Ampenan sebagai “Kota Tua” penuh kenangan. Seiring perkembangannya, kebangkrutan ACC menjadi “Barata” tidak mampu membangkitkan kembali geliat pusat perekonomian yang telah terlanjur bergeser ke Cakranegara.

Berdasarkan hasil penelitian Adhiya Harisanti (2013) tentang Perkembangan Kawasan Cakranegara Lombok, Kelurahan Cilinaya merupakan salah satu yang mengalami perkembangan sangat besar terutama di Jalan Pejanggik, Jalan AA. Gede Ngurah, dan Jalan Panca Usaha. Bahkan sejak tahun 1960-an, bangunan pertokoan mulai didirakan hingga pada awal tahun 1999-2000, ketiga lingkar jalan tersebut semakin padat bangunan pertokoan. Melihat kondisi ekonomi yang semakin ramai tersebut, pada tahun 2000an Mataram Mall berdiri dibekas lokasi pacuan kuda yang berada di sebelah timur Pura Dalem Karang Jangkong.

Berdirinya Mataram Mall di daerah Cakranegara, semakin mempertegas posisi kawasan perdagangan dan jasa Kota Mataram yang tertuang pada Perda No. 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Mataram. Selain sebagai kawasan perdagangan dan jasa, daerah Cilinaya khususnya menjadi tujuan wisata budaya. Beberapa bungunan kuno khas Bali seperti Pura Meru dan Taman Mayura menjadi benda cagar budaya oleh pemerintah daerah. Hingga saat ini, daerah tersebut masih dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan oleh masyarakat Hindu di Kota Mataram. Sebagai salah satu contohnya adalah pelaksanaan pawai ogoh-ogoh setiap Hari Raya Nyepi di Kota Mataram.

Namun, pada perkembangannya, keberadaan Mataram Mall semakin terkikis dengan keberadaan Lombok Epicentrum Mall. Mal baru yang berdiri di bekas kantor bupati Lombok Barat, Jl. Sriwijaya pada tahun 2015 tersebut sedikit banyak berdampak pada pengunjung Mataram Mall. Sebelum habis dan bernasib sama dengan ACC, pihak manajemen Mataram Mall harus memutar otak untuk menyelamatkan Mataram Mall dari kepunahan. (halorinjani/bay/aks)

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s