Bijak dengan Sistem Wik Tu Telu

sembalun
Abdurrahman Sembalun, Ketua Kemangkuan Adat Sembalun (Theo/Halo Rinjani)

Reporter: L. Theo Hidayat

Masyarakat adat Sembalun memiliki sistem pranata sosialnya sendiri yang masih digunakan hingga saat ini bernama Wik Tu Telu. Namun, akibat penjajahan Belanda lama-kelamaan sistem Wik Tu Telu bergeser maknanya.

Selong, HALO RINJANI – Kearifan lokal masyarakat Pulau Lombok tidak hanya ditemui di daerah Bayan dengan kepercayaan Wetu Telu-nya. Masyarakat adat Sembalun juga memiliki kearifan lokalnya sendiri bernama Wik Tu Telu. Pranata sosial Wik Tu Telu tersebut merupakan manifestasi dari filosofi kehidupan masyarakat adat sembalun yang dikenal dengan konsep Wetu Telu (tiga pandangan hidup) yakni Tuhan, alam dan manusia.

Pengelolaan sistem Wik Tu Telu dipimpin oleh tiga pimpinan adat, yang berhubungan dengan ke-Tuhanan dipimpin oleh penghulu adat dan dibantu oleh kiai-kiai adat. Tiap-tiap desa memiliki kiai adat yang diangkat oleh penghulu adat.

“Untuk urusan alam dikelola oleh pemangku adat dibantu, oleh, pertama mangku bumi yang mengatur tata ruang, yang kedua mangku gunung yang memelihara situs-situs yang ada di pegunugan sembalun, yang ketiga mangku gawar yang menata kelola tentang hutan,” ujar Abdurrahman Sembalun, ketua kemangkuan adat Sembalun. Abdurrahman melanjutkan, “yang keempat ada mangku makem yang mengelola tentang air, pertanian dan peternakan, kemudian, yang kelima mangku rantai emas menyangkut masalah cagar alam, dan menyangkut hubungan dengan luar, mangku majapahit yang mengurusi cagar budaya, mangku negara yang mengurusi persoalan negara.”

Untuk urusan masyarakat dikelola oleh pemekel adat, jika ada masyarakat yang melanggar hukum adat maka pemekel adat akan menghukumnya sesuai dengan hukum adat yang berlaku. “Jadi misalnya kawasan hutan adat itu ada mata air, tidak boleh berkendaraan, jadi jika itu dilanggar maka nanti akan jatuh, entah karena disebabkan oleh apa,” tambah Abdurrahman.

“Kemudian ada pelanggaran tertentu misalnya asusila, maka nanti perbuatannya itu nanti ditulis dan pelakunya diarak ke desa-desa, kemudian nanti di kepalanya akan ditaruhkan kembang setanggi kemudian ditembak oleh pelepah pisang, walalupun tidak sakit namun itu menimbulkan efek jera bagi si pelaku, karena ia menanggung malu,” tutur Abdurrahman. Abdurrahman menambahkan pernah juga terjadi pencurian, sebagai hukuman jari kelingking pelaku pencurian dipotong salah satunya, lalu kelingking tersebut digantung.

“Jadi sembalun pada jaman dahulu sapi dibiarkan berkeliaran, rumah tidak pernah dikunci, tidak pernah terjadi pencurian, karena memang berjiwa lomboq buaq (lurus). Terus perilaku sasak sangkabira, kita secara komunal bergotong royong. Jadi motto kita itu, bekerja bersama-sama, bersama-sama bekerja. Jadi tidak ada yang berani mengambil yang bukan haknya,” terang ketua kemangkuan adat tersebut.

Namun, menurut lelaki berjenggot putih tersebut, saat ini masyarakat sembalun telah kehilangan identitasnya sebagai masyarakat adat. Hal tersebut tak lepas dari pengaruh penjajahan Belanda. Kolonialisasi yang dilakukan Belanda perlahan menghilangkan identitas masyarakat adat sembalun.

Yamni dalam working paper-nya yang meneliti tentang masyarakat adat Sembalun mengatakan jika Sembalun pada masa masuknya pengaruh kolonial, secara politis, Belanda tidak menjajah masyarakat Sembalun, tapi secara budaya terjadi. Hal ini dilihat dari pergeseran istilah Wik Tu Telu berubah menjadi Wet Tu Telu yang mengalami pergeseran makna akibat dari politik devide et impera, politik adu domba, yang dijalankan oleh pihak kolonial.

“Sekarang ini, di Sembalun ini telah terjadi degradasi sosial, gegar budaya, manusia sembalun yang berjiwa lombok buaq berubah menjadi materlialistis. Masyarakat sembalun yang berperilaku sasak sangkabira (komunal, gotong royong) berubah menjadi individualistis, maka dari itu kami dari masyarakat adat sebenarnya menginginkan kita kembali kepada kearifan lokal kita,” ucap Abdurrahman. (aks)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s