Pidato Satir Tuan Guru Bajang dan Kondisi Media Kita

gubernur-provinsi-ntb-h-zainul-majdi-memberikan-sambutan-pada-pembukaan-hari-pers-nasional-hpn-di-lcc-mataram
Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Zainul Majdi (foto: Bin/Kahaba)

Penulis: Bayu Diktiarsa

HALO RINJANI Kondisi media yang cenderung partisan dan memiliki afiliasi politik menjadi kritik Tuan Guru Bajang (TGB) H. Zainul Majdi pada peringatan Hari Pers Nasional 2016 di Pantai Kuta, Lombok. Kritikan satir dan cerita pers di Mesir, disampaikan TGB setelah sebelumnya secara berani memberikan kritik mengenai lemahnya peran Bulog di NTB.  Walaupun terjadi satu tahun silam, video pidato Gubernur NTB tersebut menjadi viral selama hampir beberapa bulan terakhir. Kondisi pers yang tidak dapat dipercaya pada era kebebasan pers, menjadi tema dalam cerita satir yang disampaikan langsung dihadapan presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

“Ketika saya dulu kuliah di Mesir, Pak Presiden, pada masa Presiden Husni Mubarok atau yang disebut masa rezim Otoriter. Koran-koran banyak, namun ada anekdot di masyarakat kampus dan kalangan cendekiawan, yang benar hanya halaman 10, halaman duka cita,” ungkap Tuan Guru Bajang.

Sontak tertawa pun pecah, kalangan menteri mulai dari Puan Maharani, Rizal Ramli, Rudiantara, hingga kalangan media seperti Dahlan Iskan dan Surya Paloh ikut tertawa mendengar cerita tersebut. Tidak hanya sampai disitu, TGB melanjutkan pidatonya dengan lebih satir lagi.

“Setelah  rezim otoriter tumbang, mulai meledak pers. Dari TV, media koran, majalah banyak sekali. Anekdotnya berubah, justru kata orang Mesir sekarang halaman 10 sudah tidak ada yang bisa  dipercaya.” tambah Gubernur alumnus Universitas Al – Azhar tersebut.

Kritik Satir TGB pada peringatan Pers Nasional  di NTB 9 Februari silam menjelaskan keberpihakan berbagai media di Indonesia. Terpecahnya TVONE dan Metro TV pada Pilpres 2014 yang mendukung Prabowo maupun Jokowi. Berita Jawa Pos yang menyerang Kejaksaan Tinggi Jawa Timur setelah Dahlan Iskan menjadi tersangka, hingga pilihan isu tentang Ahok beberapa bulan silam. Seakan menjadi kegeraman warga Nusa Tenggara Barat terhadap kondisi media saat ini. Menanggapi hal itu, TGB melanjutkan dengan kalimat satir berikutnya yakni kepemilikan media di Indonesia yang dimiliki oleh ketua partai maupun politisi.

“Mungkin karena di Mesir itu, semua partai politik punya koran, semua partai punya TV, jadi mungkin karena kontradiksi satu dengan yang lain semua berita yang ada. Jadi tidak ada yang benar,tapi itu ada di Mesir, bukan di Indonesia,” ujarnya.

Pasca Hari Pers Nasional, nama TGB dan NTB naik pada tahun 2016. Beberapa kali NTB dirujuk oleh berita nasional pada segmen pariwisata, budaya hingga acara monumental seperti pelaksanaan MTQ 2016, Hari Pers Nasional 2016, hingga Liga Futsal 2016, dan Festival Tambora. Di tengah permasalahan media partisan dan keberpihakan media dengan politik, porsi media untuk NTB hanya pada isu monumental saja. Hal ini diperparah dengan sentralitas isu dan konten pemberitaan.

Minimnya pemberitaan di wilayah lain termasuk Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu permasalahan penyiaran di tanah air. Survei lembaga pemantau media “Remotivi” bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (UNPAD) menyebutkan 73% frekuensi dan durasi berita hanya diisi oleh aktor, dan tokoh dari Jakarta saja. Disusul dengan Jawa Timur (3%), Jawa Barat (2%), Jawa Tengah (2%) dan Sulawesi Selatan (1 %). Sementara, provinsi lainnya berbagi durasi (19%) pada tayangan nasional (Survei Melipat Indonesia Dalam Berita Televisi, 2014).

Hal ini sekaligus menunjukkan betapa kecil peluang berita asal Manado, Papua, Aceh, hingga NTB untuk menjadi berita nasional. Data ini sekali lagi mengetengahkan pada kita bahwa dalam konteks penyiaran, provinsi luar Jawa hanya muncul sekilas saja. Akhirnya solusi untuk pemenuhan informasi kepada masyarakat NTB hanya berada pada media lokal seperti Koran Lombok Post, NTB Post, Gaung Sumbawa, Radio, media online dan beberapa televisi lokal seperti TV9 dan TVRI NTB.

Walau demikian, beberapa peluang munculnya media alternatif oleh anak-anak muda NTB hadir dan menjadi peluang tumbuh berkembangnya media kita. Di media sosial, berbagai foto tempat wisata hadir dalam tagar #explorelombok. Kini, telah terdapat akun official line Inside Lombok dan beberapa akun lain yang mengabarkan tentang Lombok. Akhirnya solusi pemenuhan informasi kembali ke wilayah masing-masing tanpa berharap media nasional yang hanya bercita rasa Jakarta semata.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s