Menengok Desa Tertua di Tanah Sembalun

desa-beleq
Tujuh rumah adat yang masih bertahan sejak abad ke-6 di Desa Beleq. (Theo/Halo Rinjani).

Reporter: L. Theo Hidayat

Desa Beleq, cikal bakal Desa Sembalun telah bertahan sejak abad ke-6 Masehi. Desa Beleq dibangun oleh 7 pasangan suami-istri setelah meletusnya Gunung Rinjani. Selain rumah adat, di desa ini kita bisa menyaksikan sisa kekuasaan Kerajaan Majapahit di masa lalu.

Mataram, HALO RINJANI – Berada di Kabupaten Lombok Timur, Desa Adat Sembalun bisa ditempuh dalam waktu 40 menit dari Kecamatan Selong. Saat melewati Kecamatan Aikmel udara dingin mulai terasa menyentuh tubuh disertai hawa yang berembun. Aikmel memang termasuk dataran tinggi dan terletak di kawasan kaki Gunung Rinjani.

Dalam perjalanan menuju Desa Adat Sembalun yang semakin menanjak, mata akan dimanjakan oleh sawah yang berjejer, ditambah dengan kontur jalan yang berliku-liku khas pegunungan. Naik beberapa meter, perjalanan disambut oleh hutan lindung dengan barisan pepohonan yang memayungi jalan bagaikan kanopi, serta kawanan kera yang asyik berkeliaran di bahu jalan.

Memasuki Desa Sembalun Bumbung, kita akan menemui perkebunan stroberi. Jalur ini merupakan salah satu destinasi wisata yang menawarkan wahana petik stroberi secara langsung. Melewati Desa Sembalun Bumbung, tibalah kita di Desa Sembalun Lawang. Lawang diambil dari bahasa Sasak yang memiliki arti pintu dalam bahasa Indonesia. Desa ini merupakan pintu masuk untuk mendaki Gunung Rinjani.

Di desa ini pula, terletak “Desa Beleq” (Desa Besar) yang merupakan cikal-bakal dari Desa Sembalun. Desa Beleq merupakan desa tertua di pulau Lombok karena telah ada sejak abad ke-6 masehi. Menurut Hamidun, penjaga situs rumah adat Desa Beleq, pada abad ke-6, setelah meletusnya Gunung Rinjani, tujuh pasangan suami-istri (pasutri) mendirikan rumah sebagai tempat tinggal di Desa Beleq. “Bangunan rumahnya pun berjumlah tujuh buah, bahan pembuatan pondasi rumahnya terbuat dari tanah liat dan kotoran sapi, beratapkan jerami dan tembok dari anyaman bambu”, tutur Hamidun.

Banyak versi cerita tentang mengapa ketujuh pasutri tersebut meninggalkan Desa Beleq. Salah satunya karena tujuh pasutri itu tidak dapat berkembang biak di Desa Beleq, sehingga mereka mencari tempat lain untuk membangun peradaban di tanah Sasak. “Bertemulah mereka dengan dua pangeran yaitu Raden Arya Pati dan Raden Mangunjaya. Kedua pangeran tersebut menunjukkan mereka di mana tempat yang cocok agar mereka dapat berkembang biak”, ujar Hamidun. Tujuh pasutri tersebut akhirnya menyebar dan meninggalkan Desa Beleq.

Hamidun juga mengatakan kedua Raden tersebut memberikan tujuh pasutri itu 3 pegangan hidup. “Pertama Al-Qur’an sebagai pegangan hidup, Al-Qur’an tersebut terbuat dari kulit unta, lalu satu ikat padi beras merah, yang ketiga, mereka diberikan linggis” ucap Hamidun. Hamidun menjelaskan jika sejarah terbentuknya Desa Beleq tersebut dituturkan melalui tradisi lisan turun-temurun.

Raden Arya Pati dan Raden Mangunjaya merupakan orang-orang dari Kerajaan Majapahit. Bukti fisik keberadaan dan kekuasaan Kerajaan Majapahit di Pulau Lombok bisa ditemukan di Desa Beleq. Terdapat petilasan yang digunakan kedua Raden tersebut untuk bersemedi.

Budaya dari masyarakat adat Sembalun berpegang kepada nilai-nilai agama/spiritual, ini bisa dilihat dari definisi pemaknaan kata “Sembalun” yang terdiri dari dua kata yakni “sembah”, artinya menyembah/tunduk dan “ulun”, artinya pemimpin. “Jadi dapat diartikan tunduk kepada Yang Maha Kuasa” tutup Hamidun. (aks)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s